Laporan Inhouse Workshop #SOP Rosewood Living Jakarta

Matahari di Jakarta masih belum terlalu terik menyengat seperti biasanya. Tetapi ada keramaian di Hall Serbaguna Apartemen Taman Anggrek yang dipenuhi Anak muda usia 20-30 an tahun.
Peserta  Inhouse workshop #SOP sedang menyelesaikan tugas
sebelum Presentasi
Yah pagi ini, 21 Oktober Rosewood Living sedang bersiap menyelenggarakan pelatihan bagi segenap karyawan dan beberapa principal dealernya.

www.Rosewood-Living.com adalah Perusahaan Furniture premium dengan pangsa pasar kelas menengah. Belum genap lima tahun kehadiraannya di blantikan perabot bergaya klasik Amerika ini telah mendapat tempat  terhormat di hati konsumennya.

Fakta ini dibuktikan dengan tumbuhnya Bisnis dan Ekspansi pembukaan showroom & outlet baru di beberapa Mall terkemuka di Kota besar Indonesia. Bahkan direncanakan tahun depan akan berekspansi ke Malaysia, Singapura dan Hongkong.

Dalam sambutan pembukaan sebelum pelatihan, Antonius Rovy sebagai Pucuk Pimpinan  menyampaikan bahwa pasar bagi produk meubel premium sangat menjanjikan. Untuk konsumsi Dalam Negri saat ini mereka telah kewalahan menyelesaikan order. Apatah lagi di tahun 2025-2030 Indonesia akan mengalami periode emas demografi. Saat itu jumlah penduduk usia Produkstif mapan usia 23-40 tahun akan banyak membutuhkan produk meubel premium untuk mengisi rumah-rumah yang akan mereka tempati.

Beberapa buyer Luar Negri juga banyak yang mengapresiasi produk RosewoodLiving, efeknya pertumbuhan dan nilai bisnis melompat naik setiap tahun. Bahkan beliau mengapresiasi team Marketing yang selalu berhasil melampaui ekspektasi sales diatas rata rata target yang telah dicanangkan.

Justru yang menjadi Pekerjaan Rumah adalah problem kualitas dan beberapa poin mengenai ketepatan pengiriman ke customer.

Peserta tidak hanya dari Kantor Pusat, tetapi juga mengundang crew marketing, team dari Pabrik, bahkan Mitra Dealer daerah yang hadir dari Balikpapan dan Banjarmasin.

Pagi itu Lukman Setiawan dari LSe acces Surabaya menyampaikan : ”Tanpa memiliki dan merumuskan standar, barang dan jasa yang kita hasilkan akan bersifat relatif. Akibatnya Mutu yang dihasilkan akan fluktuatif”.

Lukman juga sampaikan bahwa Fakta dilapangan yang ditemukan pebisnis tak mengerti pentingnya Nilai dari mutu yang harus dijaga. Padahal mutu berarti reputasi.

Karena sebenarnya mutu yg istiqomah akan lebih mudah diingat dan tertanam  di benak konsumen daripada branding yang kadang lebih ditekankan pebisnis.

Berikut beberapa perilaku  pebisnis yang tak produktif :   
  1. Jika ditanya apa standar mutu bahan baku Anda? Kebanyakan Pebisnis menjawab de ngan nama brand, bkn detail spesikasi ideal barang dimaksud
  2. Jika ditanya apa standar proses Anda? Mereka  tak menuliskannya detail sehingga melahirkan beberapa versi yang berpeluang mencetak cacat produksi
  3. Di ranah delivery, Pebisnis belum terbiasa bahkan abai terhadap batas waktu penyerahan barang/jasa. Tak ada standar takt time/ due date


Tanpa standar-standar tadi peluang salah akan terbuka, kepuasan pelanggan tiada reputasi produkpun akan musnah.


Ingat, Tanpa reputasi biaya tinggi akan menjadi, akselerasi tak terjadi, Bisnispun akan sulit karena masalah datang membelit.

Mestinya segera bangun sistem, karena  semua hal dapat dikendalikan, baik dari sisi kecepatan, ketepatan, dan standar-standar kepuasan yang telah terdefinisikan.


Acara yang diselenggarakan dengan serius tapin santai, pada 22 Noveber 2014 berakhir  diharapkan  segera mewujud pribadi-pribadi handal yang mengerti sistem. Karena tanpa kefahaman sistem berarti akan melenggang menuju kehancuran Bisnis (LSe)



 
Top