persempit-kesempatan-penyelewengan

Kejahatan ditentukan oleh bakat dan lingkungan. Kelahiran perilaku jahat dalam diri seseorang diperoleh semenjak lahir kemudian dibentuk lingkungan. Saat dia dilahirkan dan terus berkembang  ditempat lahirnya  kejahatan itu- Prof WA Bonger Kriminolog Belanda

Pendapat yang kemudian  diadopsi dan menjadi rujukan Kepolisian,    rumus  Kejahatan tercetus karena awalnya Kesempatan bertemu dengan Niat.

Di ranah Organisasi,  penyelewengan terjadi karena terbukanya peluang, minimnya pengawasan menjadi pelengkap lahirnya kebocoran pendulang kerugian.

Pegawai saat direkruit dan bergabung dalam organisasi awalnya berperilaku lurus, tetapi karena tiap hari melihat kesempatan terbuka, akhirnya bisa tergoda. 

Kesempatan muncul  karena lingkungan yang mendukung. Niat  jahat dapat tumbuh belakangan dalam lingkungan organisasi minim  aturan dan pengawasan , seperti membuka lebar pintu  kesempatan untuk dilanggar.

Sebaliknya jika niat membuncah sampai  di ubun-ubun tetapi yang ada hanya sempitnya  kesempatan,  maka tak akan ada penyimpangan. Karena niat saja tak cukup melahirkan peluang timbulnya kebocoran.

Beberapa kali  berkesempatan menjadi nara sumber utama workshop atau melakukan pendampingan pembuatan system operating procedure di Perusahaan client,  saya menemukan relevansinya.

Tiadanya system dan minimnya pengawasan maupun evaluasi mampu menenggelamkan kapal bisnis. Mulainya kecil dan terbatas, tetapi karena kurangya evaluasi dan ketiadaan system kebocoran akan menganga dan berterusan hingga akhirnya  TITANIC  Bisnis pun karam.

Berikut Beberapa Tips  yang harus diperhatikan pebisnis agar penyelewengan dapat  dicegah bahkan  dikikis habis ke akarnya:

  1. Saya selalu mengingatkan dan mengoreksi pebisnis yang lupa belum menerbitkan tata tertib-peraturan perusahaan-Rule of conduct . Secara naluri-alami manusia akan selalu mencari aturan yang ringan, tidak mengikat, tanpa ada pelaporan dan evaluasi. Tetapi jika diikuti, kerugian dan kerusakan akan lebih banyak menyulitkan daripada menguntungkan. 
  2. Ciptakan mekanisme jelas dan terukur sebagai bagian  penegakan disiplin jika ditemukan pelanggaran. Peraturan Perusahaan ada sebagai perangkat rambu panduan, acuan pembinaan, sudah sepantasnya setiap penyelewengan akan diluruskan. Bentuk feedbacknya mulai dari counseling, surat peringatan lisan tertulis, Surat peringatan level I-III hingaa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
  3. Jangan percaya 100% kepada karyawan  dan mengabaikan mekanisme Standar Operating Prosedur. Gunakan selalu prinsip Check & Recheck untuk selalu memastikan  setiap orang berada on track - di jalan yang benar. Setiap wewenang melahirkan tanggung jawab, dan harus direview oleh pimpinan disaat meeting & review pekanan.
  4. Bangun SOP sederhana sehingga atasan mampu melakukan penilaian performa karyawan setiap bulan. Tumbuhkan iklim persaingan  sehat untuk berkarya nyata, yang beprestasi akan diapresiasi, yang melanggar dikenai sanksi.
  5.  Bangun dan berikan akses komunikasi berkala karyawan baik antar sejawat rekan kerja maupun dengan atasan. Hidupkan forum briefing harian dan meeting pekanan sebagai cara mencari solusi tiap ditemukan kebingungan.
  6. Lalukan formulasi diatas  secara konsisten, kontinyu dan berkelanjutan. Ingat di dunia tiada  dikenal berlaku hukum instant. Semua harus berproses, untuk mendapatkan hasil akhir tepat prosedur yang harus dijalaninya haruslah tepat terlebih dahulu!. (LSe)


 
Top