siasati-krisis-kencangkan-ikat-pinggang-dengan SOP-taktis

Pasar negara berkembang tengah menanggung beban , kondisi yang biasanya nyaman dengan  nilai tukar dollar  murah, mulai berganti.  Mata uang kita terus merangkak mencapai posisi terendah dibandingkan kurun beberapa tahun terakhir.

Efeknya daya beli masyarakat menurun, penyebabnya bahan baku produksi  impor telah memaksa kita harus menaikan harga jual, pemicu lainya inflasi disemua sisi.

Ditengah kondisi sulit yang menghimpit, bukan berarti tak ada solusi untuk bangkit. Selalu ada celah dan cara asal kita tak mudah menyerah kalah.

Ada beberapa pilihan  yang bisa diambil untuk menyikapi kondisi ini, mulai menyesuaikan harga, memperbesar omset penjualan atau mengurangi biaya produksi. Pilihan pertama dan kedua kelihatanya  mudah sederhana tetapi sulit untuk dilaksanakan.

Jika kita menaikan harga jual, produk kita menjadi tidak kompetitif dan pelanggan dengan mudah akan beralih ke kompetitor yang menawarkan harga lebih murah.  Ingat!  pada kondisi krisis masyarakat akan sangat sensitive terhadap segala yang berkonotasi mengurangi nilai uang.

Memperbesar omset penjualan, hampir mustahil karena  turunya daya beli masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat yang berpenghasilan besarpun lebih selektif membelanjakan uangnya dan tak mudah menaikan konsumsinya.

Fakta lainya, masyarakat cenderung mengurangi belanja, yang mereka harapkan dengan jumlah uang yang sama tetap mendapatkan semua keperluan yang dibutuhkan.

Maka pilihan terakhir yang masuk akal untuk diambil adalah memangkas biaya produksi. Mengurangi biaya bukan sekedar menyusutkan nominal belanja rutin yang mesti dibeli. Esensinya kita harus mampu mengeliminasi pengeluaran yang tak perlu. Pastikan semua aktivitas yang tidak menghasilkan nilai tambah adalah waste, jangan sayang untuk dibuang.

Cobalah mencari akar  pemborosan , karena banyak kebocoran yang tidak perlu adalah pangkal  kesulitan ditengah krisis.

Bagi pebisnis yang menggunakan Standar Operasional Prosedur  dalam kegiatan usahanya, akan mudah melakukan mengencangkan ikat pinggang. Coba kenali dan kelola sumber pemborosan dengan mendetailkan arti kualitas. Proses detail terukur akan mengurangi resiko salah yang menghasilkan sampah.

Buat  perumusan  SOP yang bisa dibandingkan, operator bisa membedakan mana produk good dan no good.

Pastikan dengan seksama tiap sumber daya telah digunakan semestinya, konsepnya gunakan seperlunya dan matikan selebihnya.

Bagikan pemahaman kepada tiap personal : kualitas adalah tanggung jawab saya. Berikan pengertian bahwa setiap proses berikut adalah customer saya. Maka dengan kesadaran bahwa ”First Customer” dan “Customer Priority” akan tercipta kondisi di mana semua lini dan bagian akan mencoba berbuat yang terbaik.

Hasil akhir akan terkendali  karena masing-masing orang telah berkomitmen menggaransi pekerjaannya. Selalu pahami dan laksanakan “Tidak menerima bahan baku cacat, tidak menghasilkan produk cacat,  dan tidak menjual barang berkategori cacat”.

Setiap proses yang dikerjakan mudah untuk dikontrol. Sedikit terjadi penyimpangan  dari standar akan tampak sebagai kesalahan.

Masing-masing lini juga harus berkomitmen menjaga  kualitas sehingga angka kesalahan dan cacat  dapat ditekan ke titik minimal. Tidak ada kompromi bagi kualitas , karena kualitas adalah harga mati. Sekali ada toleransi terhadap kualitas, kerugian akan lebih menyulitkan.

Berapa ongkos yang harus dibebankan  untuk perbaikan dan berapa rupiah uang yang harus dikeluarkan untuk membayar klaim kesalahan? Sambil terus berusaha, berdoa  dan mencoba. Kendalikan yang ada di genggaman dengan SOP taktis, lewati krisis dengan tenang dan perhitungan matang. Bagaimana menurut pendapat Anda? (LSe)




 
Top