McD-membangun-rkerajaan-bisnis-dengan-reputasi-SOP-tepat


“Kesempurnaan sulit sekali dicapai, tetapi kesempurnaanlah yang kami inginkan dalam McDonald’s. Segala hal lainnya hanya sekunder bagi saya. Tujuan utama kami adalah memastikan bisnis sustainable berdasarkan reputasi sistem dan bukannya mutu satu restoran atau operator tunggal” (Raymond Croc dalam bukunya otobiografinya, Grinding It Out)

Franchise yang diterjemahkan bebas sebagai waralaba, adalah fenomena bisnis yang mencapai booming di Indonesia pada tahun 2000 an. Pola bisnis Franchise banyak diadopsi oleh pebisnis lokal untuk mengakselerasi kecepatan usahanya. Sayang tak semua dari mereka memiliki pengetahuan dan ilmu yang cukup sehingga tak semua mulus mencapai puncak keberhasilan.

Tak sedikit kisah yang berakhir menyedihkan, akibatnya banyak investor gigit jari karena kurang jeli atau tak cukup mengerti berinvestasi. Bisnis yang dalam penawaranya menjanjikan revenue keberhasilan diatas 75% ternyata hancur hanya dalam hitungan bulan.

Agar tak mengikuti kesalahan yang sama kita dapat belajar dari Raja fast food Mc Donald . Inilah  waralaba asing yang masuk ke Indonesia di awal  tahun 90 an. Gerainya terkesan fresh dan family sehingga cukup populer dan cepat diterima masyarakat. Sampai saat ini total gerai Mc Donald diseluruh dunia mencapai kisaran angka 31 ribu outlet lebih  tersebar di 119 negara. Dengan belajar dari perusahaan world class ini diharapkan kita terinspirasi mengikuti jejak suksesnya.

Kisah  ini dimulai dari bagaimana Raksasa makanan cepat saji Mc Donalds dilahirkan.  Bermuara dari Raymond Croc, salesman mesin susu kocok yang menjual produknya ke Maurice dan Richard Mc Donald.

Dia terinsprasi dengan kemampuan dua bersaudara meracik Prince Castle Multimixer untuk mencampur empat puluh gelas susu kocok secara simultan dalam waktu kurang dari enam puluh detik. Kompetitor kedai sejenis kala itu dalam  waktu yang sama  hanya mampu selesaikan lima gelas susu kocok.

Tergerak dari apa yang dilihat Kroc membayangkan membangun industri  makanan cepat saji . Dengan persetujuan dari keduanya di tangan, Kroc mulai memenuhi bayangannya tentang restoran McDonald’s yang meledak dari kota ke kota.

Diawali dengan meniru kakak-beradik McDonald sebagai contoh permulaannya. Dia mulai bermimpi membangun jaringan restoran. Kroc memberlakukan disiplin atas industri restoran yang dikelola secara longgar. Dan itu berarti menyempurnakan SOP  yang distandarkan dalam proses yang  mudah di duplikasi.

Dialah peletak dasar pilar revolusi industri restoran cepat saji dengan memberlakukan disiplin atas produksi hamburger, kentang goreng, dan susu kocok. Melalui pengembangan Standard Operating Procedure tepat, dia memastikan bahwa kentang goreng yang dibeli oleh pelanggan di satu kota akan sama mutunya dengan yang dibeli di kota lain.

 Keberhasilan McDonald’s yang ditiru secara meluas menawarkan contoh yang baik sekali bagi manajer dan eksekutif saat ini  yang berusaha mencapai efisiensi produksi .

Rahasianya adalah mendesign sistem  jalur perakitan  berkonsep mengalir seperti pada lantai industri Automotive.  Keputusan ini bermula  dari apa yang telah dipraktekan oleh sang legenda America Henry Ford yang merumuskan produksi masal mobil memerlukan kombinasi antara presisi  detail bagian mobil dan proses perakitan yang efisien.
Dengan menempatkan hamburger yang sederhana di atas jalur perakitan, Kroc menunjukkan kepada seluruh dunia bagaimana cara menerapkan proses manajemen yang maju pada usaha yang paling membosankan.

Kroc kemudian memperkenalkan program periklanan nasional untuk mendukung franchise yang tersebar dengan cepat; go global bagi McDonald’s. Sepanjang pertumbuhan perusahaan yang spektakuler, Kroc melakukan akrobat keseimbangan berjalan di atas rentangan tali yang sulit, pemberlakuan standar yang keras di seluruh sistem dan dorongan semangat wirausaha dan membuka diri terhadap inovasi dari berbagai kalangan.

.Kroc juga mengajarkan disiplin pada pembuatan sandwich. Dengan menggunakan konsep ide “mendeskripsikan ilmu untuk membuat dan menyajikan hamburger,” Kroc berhasil mendefinisikan formula resep daging sapi gilingnya  seperti ini : kandungan lemak  di bawah 19 persen; berat: 1,6 ons: garis tengah: 3,875 inci; bawang: ¼ ons .

Untuk menguatkan konsepnya Kroc  membangun laboratorium di pinggiran kota Chicago yang bertugas merancang metode pembuatan kentang goreng yang sempurna pada akhir tahun 1950-an. Bukannya sekedar memasok pembeli franchise dengan rumus susu kocok dan eskrim, Kroc ingin menjual kepada partner dan investor barunya satu sistem operasi Prosedur (SOP) tepat.

Dari Lembaga Thinktank inilah akhirnya  lahir konsep formulasi  burger presisi, tepat ukuran dan mutunya, masing-masing berisi potongan acar yang sama, setiap burger disajikan dalam talam yang serupa, bersama kentang goreng yang dimasak dengan lama waktu yang seragam.

Supaya bisa maju dengan cara McDonald’s, outlet cabang harus menetapkan dasar pelayanan yang mereka bakukan, merancang definisi pekerjaan menjadi bagian-bagian, dan kemudian meraciknya secara  sempurna dalam  SOP secara smooth.

Saat ini setiap Investor- pembeli hak franchise dan operator pengelola McDonald’s dilatih  di Unversity of Burger menggunakan methode Kroc tentang Mutu, Pelayanan, Kebersihan dan Nilai.

 Dari ruang laboratorium Reseach And Development dapat menelurkan  mekanisme memasak, membekukan, menyimpan, dan menyajikan. Disini juga diberikan pemahaman bahwa tidak ada dikotomi antara pengendalian pusat dan otonomi operasional di outlet cabang  yang berada belahan dunia manapun.

 Pada bulan Januari 1984, sang pendiri meninggal dunia dalam usia lanjut pada pada umur delapan puluh satu tahun, tepat sepuluh bulan sebelum McDonald’s menjual hamburger yang ke-50 milyar . Meski sudah meninggal karya dan pemikiran Kroc tetap diakui sebagai salah satu kampiun peletak dasar Bisnis waralaba terbaik sepanjang masa.(Lse)
 
Top