“Amati lantai produksi tanpa prasangka dan dengan pikiran kosong, ulangi pertanyaan  “mengapa” sebanyak lima kali pada setiap permasalahan.” Tachi Ohno ( dokumen Toyota Way)


Joko Widodo belum pernah bertemu dengan Tachi Ohno, sang Maestro Toyota Motor   Corp Jepang,  apalagi  mempraktikan methode Lingkaran Ohno nya. Tetapi laku dan langgamnya  lurus sebangun dengan Pemikiran Maha Guru Toyota Production System itu.

Blusukan atau dahulu sudah dikenal dengan istilah turun ke bawah saat ini kembali popular dan seolah menjadi milik sang   Gubernur. Gaya lugasnya  masuk langsung ke wilayah perkampungan rakyat belakangan menjadi isu yang kian menarik perhatian. Sebagai Gubernur  Ibukota Negeri  yang memiliki beribu masalah pelik apa yang dilakukanya menerbitkan harapan baru. Masyarakat  merasa mendapat angin  perubahan yang selama ini dinantikan.

Inspirasi bergizi didapatinya di Eropa kala menjadi pebisnis mebeulair yang berhasil menembus pasar manca.  Disana ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran. Tiga kata kunci inilah yang melandasi Jokowi selalu ingin mengurai akar masalah langsung ke sumbernya.

Fakta dan realita lapangan  bukan omong kosong  ia tak pernah bohong, apa yang tersaji adalah bukti. Simpul problem sebenarnya  sulit dapat diketahui hanya dengan membaca laporan, atau mendengar saran. Dibutuhkan keseriusan penanganan pada birokrasi yang telah terlanjur suka membuat laporan berlebihan melebihi kenyataan.

Dalam organisasi apapun melihat langsung sungguh memiliki banyak dimensi solusi.  Mr Ohno bahkan mengajarkan kepada salah seorang  Presiden Toyota Manufacturing  America menjadi pengamat .

Teriyuki Minoura akhirnya mendapatkan pencerahan setelah berdiri  dalam garis lingkaran Ohno dan memperhatikan proses dalam pabriknya. Ohno berhasil  mentransformasi kefahaman bahwa melihat bukan hanya sekedar mempehatikan melainkan harus melakukan observasi mendalam. Apa yang dilihat harus dilanjutkan dengan mempertanyakan, menganalisis dan mengevaluasi.

Jika kita terpaku pada laporan data dan angka maka kita akan terjebak pada signifikansi asumsi dan mengabaikan esensi. Lebih bijaksana jika kita juga memahami konteks mengenai apa yang terjadi lebih dari sekedar paham laporan basa basi.
.
Dalam konteks penyelesaian masalah, Blusukan  berarti pergi ke lapangan , ruang di mana terjadinya masalah untuk melihat langsung akar masalah, melihat dampak dan mencari potensi perbaikan yang paling masuk akal.

Demikian  juga apa yang terjadi dengan Bisnis kita. Jika terjadi masalah, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah  Blusukan langsung ke tempat di mana masalah terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi? , siapa yang melakukan? Dimana TKP( Tempat Kejadian Perkaranya), adakah yang tidak sesuai SOP saat kejadian berlangsung? , atau adakah abnormalitas penyimpangan terhadap SOP?  Semua pertanyaan itu bisa diketahui jawabannya saat turun langsung ke lapangan.

Jokowi memberi contoh konkret bagaimana Pemimpin harus bertindak taktis praktis, dari sekedar bicara teoritis. Blusukan adalah shortcut cepat pengontrol penyimpangan praktik, cari akar masalah langsung ke sumbernya. Sudahkah kita lakukan blusukan untuk memastikan Standar operating Prosedur selalu dilaksanakan oleh team? (Lse)

 
Top