“You had to pay attention to small things, otherwise they would get out of control and become much worse.” (Rudy Giulani, Major New York City 1994-2001)

Membangun SOP membutuhkan effort  tak murah ; diperlukan biaya, tenaga dan masa, disela rutinitas kerja.  Tetapi sayangnya, acap saya dengar curhat pengusaha, apa yang diinvestasikan berakhir hampa.

Sistem yang dipunya tak diindahkan pekerja, mereka acuh dan tetap memilih cara lama yang  sudah barang tentu lebih mudah.


Banyak yang bingung dan bertanya darimana perbaikan harus bermula? Jika ide dan cara sendiri tak menemukan jawaban pasti. Mengapa kita tak mengambil inspirasi sahih dari yang telah teruji?


Mari kita simak dua kisah berlatar belakangnya berbeda.  Pertama, Perusahaan Bisnis dari negeri Jepang, macan Asia. Yang kedua, berasal dari Amerika  negeri Adidaya, mashur berlogika, kedepankan nalar sebagai panglima. Meski berlatar Birokrat, tapi ia mampu turunkan angka kriminalitas dari jumlah dahsyat menuju kota aman dalam waktu singkat.


Tahun 1988, Yoshihito Tanaka, Presiden Tokai Shin-ei mulai kehilangan cara untuk mendidik karyawan mengurangi angka kesalahan kerja sesuai standar. Sudah banyak jurus yang diterapkan, teori dipraktikan. Tapi tak  kunjung hasilkan perbaikan signifikan untuk perubahan yang diharapkan.


Hingga suatu hari melalui guru Hidesaburo Kagiyama, Presiden salah satu pemasok komponen mobil datang dan membagi pengalamanya.

Dialah yang  berpendapat  awali dan akhiri kerja dengan konsep 5 S yang sederhana mudah. Inti pondasi ajaran ini adalah S terakhir  yakni Shitsuke atau terjemahan bebasnya berarti  swa-disiplin, disiplin harus dimulai dari inisiatif sendiri.


Prakarsa disiplin dibangun mulai dari  teladan dan layanan pucuk pimpinan. Kagiyama, percaya memberi contoh itu adalah terlibat langsung pada aksi tak cukup sekadar orasi.


Eksperimen perdananya bermula menyapu halaman kuil yang terletak di daerahnya. Kuil yang sudah sedemikian kotornya, sampai pemerintah daerah setempat memutuskan untuk menutupnya.


Halaman kuil sering kali tertutup oleh bungkus permen yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. Setelah selesai menyapu sampah, Tanaka memutuskan untuk membersihkan kamar kecil.


Mulailah ia terapkan jurus menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan terkecil. Ia bersihkan kamar kecil dengan tanganya sendiri saban hari. Tanaka sangat yakin akan ajaran Kagiyama yang menyatakan bahwa 5 S percaya memberi contoh itu adalah terlibat langsung pada aksi tak cukup sekadar orasi.



Hasil pengamatan Tanaka mendapati,  segera setelah bungkus permen yang berserakan dipungut dan kamar kecil dibersihkan, pengunjung berhenti membuang bungkus sembarangan dan mereka mulai berpartisipasi menjaga kebersihan.


Tanaka belajar dari pengalaman  bahwa disiplin pribadi bukanlah harta warisan. Ia juga bukan pembagian, displin harus diusahakan.  Disiplin adalah hasil  partisipasi kegiatan , melibatkan diri dalam program bersama seperti membersihkan lingkungan.


Akhirnya Tanaka Paham dan sampai pada kesimpulan bahwa disiplin pribadi merupakan titik awal dari semua kegiatan yang lebih besar.

Kisah Berikut berasal dari Barat yang terkenal  berpikir serba logis tak percaya mistis. Hampir setali tiga uang, cerita bermula dari kekisruhan realita. Sang empunya ide mencari jurus solusi, atasi peliknya masalah berlatar belakang kriminal  yang saban hari  makin meningkat hebat.


Pada 1994 Rudy Giuliani mulai menjadi walikota New York City,  saat itu angka kriminalitas di NYC sangatlah tinggi. Pada masa tampuk  pemerintahanya pelan tapi pasti secara statistik angka kriminalitas membaik dan  menurun drastis.


Bagaimana kiat  rahasia Rudy Giuliani melakukannya? Giuliani dan tim kepolisian NYPD berhasil menurunkan tingkat kriminalitas dengan memperbaiki “jendela pecah”.


Kerusakan sepele yang jika dibiarkan menerbitkan kesan, sebuah rumah tak berpenghuni.  Dari sini mendorong vandalisme dan tindakan anarki berikutnya.


Biasanya dengan memecah jendela yang lain, dinding yang dicoreti graffiti, hingga akhirnya lingkungan menjadi tempat nongkrong berandalan, dan seterusnya. Secara akumulatif angka kriminalitas akan merangkak dan kejahatan terdongkrak.  Untuk menurunkan kriminalitas harus dimulai dari hal kecil, seperti menggati kaca jendela yang pecah.


Dia percaya dan yakin untuk menertibkan kejahatan besar harus dimulai dari menyelesaikan street crime, pemicu kejahatan lebih besar. Tidak ada kompromi bagi kejahatan kecil, otomatis kejahatan besar tak akan muncul.


Tak ada coretan tembok, pemerasan, peredaran narkoba, dan pemalakan preman. Secara tak langsung, jika kejahatan kecil dimatikan, Pemerintah  berkirim signal " Walikota dan Kepolisian concern menertibkan kota".


Dua kisah nyata  diatas membuktikan, asal kita bersungguh-sungguh inginkan perubahan,  selalu terbentang jalan perbaikan. Implementasi Standar Operasional Prosedur harus diterapkan diatas trinitas  disiplin, keteladanan dan pelayanan pimpinan.

Inilah gambaran nyata bagaimana Leader tak pantas selamanya hanya bicara diatas pentas.  Dituntut pemimpin membumi dengan inisiatif,  contoh konkret dan terlibat langsung pada aksi. Pelanggaran tak cukup didiamkan, harus ada aksi penanggulangan.

Terakhir jika masih ditemukan pelanggaran lakukan peringatan, konseling hingga tindakan tegas sebagai pembinaaan bagi yang tak mengindahkan.

STOP, mencaci merutuki kegelapan saatnya memberi Bukti bukan Janji...Bagaimana menurut Anda? (Lse)

 
Top