satu-untuk-semua-pintu-segala-persoalan


"Unus Pro Omnibus,Omnes Pro Uno. One  for all, All for One" Novel Three Musketers ditulis oleh Alexandre Dumas

Slogan dahsyat untuk  ungkit semangat teamwork hebat. Satu untuk semua, semua untuk satu.
Kebanyakan mengikuti yang satu, satu ikuti kebanyakan. Dalam kerja team, tak ada personal paling hebat semua setara pegang kunci manfaat.

Maksudnya sebagai inspirasi  member.  Untuk berpikir, bertindak dan satukan  kehendak. Tak lagi berpikir sektoral, parsial dan insidental.

Tetapi slogan diatas bukan melulu untuk maksud yang "lurus".  Saat ini  ada yang menggunakan untuk gambarkan pembagian job melebihi batas kapasitas.

One for All bermakna satu orang memiliki beban kerja segalanya.  Motifnya untuk penghematan, membayar gaji seorang dengan tanggung jawab  beberapa pekerjaan sekaligus.

Setidaknya kisah ini rupanya dialami dalam Praktik seorang kawan yang berkecimpung didunia kuliner makanan.

Disebuah pertemuan jamuan makan dengan seorang kawan, diakhiri dengan  saling menanya kabar pencapaian. Sebuah resto kecil di kota Bengawan bersuasana cozy menemani santap sedap kami.

Sebetulnya, dari sisi pendapatan  Sebutlah Mas Hari  adalah pebisnis sukses tak terbantahkan. Lini bisnis resto dan catering telah menghasilkan kekayaan dan kemasyhuran.

Hingga suatu saat, perjalanan bisnis menghantar pada pertumbuhan usaha membesar lebar diluar jangkauan nalar.

Sejak awal Mas Hari,tak pernah berencana atas apa yang dikelola. Seperti pebisnis kebanyakan, kewirausahaan adalah kecelakaan.

Karena gagal  beberapa kali mengikuti test PNS, maupun di  perusahaan swasta. Kewirausahaan adalah pilihan akhir, dikala pilihan lain telah tertutup takdir.

Dia bersama istri akhirnya memberanikan diri membuka warung kecil berkonsep masakan jawa dengan penyajian prasmanan.

Berbekal beberapa resep tempoe doloe keluarga  Istrinya dia mencoba peruntungan disana. Dan secara mengejutkan,ternyata animo masyarakat sangat antusias.

Terbukti tiap hari tak ada sisa masakan yang harus dibuang, semua berubah jadi uang. Hari berganti minggu, bulan  berbilang tahun, hingga dia telah mampu memiliki cabang di banyak kota seanntero nusantara.

Diawal semua boleh hadir mengalir tanpa  dipikir. Tapi jika bisnis telah bergulir semua harus ikuti kaidah dan sistem mutakhir.

Kawan saya sampaikan, karena tak ada pembagian kerja dan struktur organisasi jelas, sering muncul bias.

Semua karyawan jika hadapi masalah atau komplain sering lemparkan tanggung jawab padanya.  Sebaliknya jika beroleh pujian mereka berusaha paling depan ingin disebut pahlawan.

Sejurus kemudian  suasana menjadi hening-bening.  Saya sampaikann bahwa dalam project pendampingan pembuatan SOP, saya lebih dahulu selesaikan ketakjelasan, termasuk membuat struktur dan jobdesk tepat.

Jobdesk ini mempersiapkan team menjadi spesialis non generalis.  Memecah tugas kompleks menjadi komponen, hingga tiap orang akan bertanggung jawab untuk beberapa aktivitas terbatas bukanya tugas secara keseluruhan.

Belum dirumuskanya jobdesk formal dapat timbulkan overload sehingga jadwal pengiriman terlambat. Kalau sudah begini kredibilitas, reputasi dan dan akuntabilitas dipertaruhkan.

Diawal tujuanya menghemat, kenyataanya bukan hanya uang yang dikeluarkan makin meningkat, trust kastamer yang telah dibangun dapat runtuh cepat.

Maka rumuskan jobdesk tiap person berdasar jabatan berisikan panduan tugas ,fungsi dan wewenang tepat untuk hindari beban tanggung  Jawab ke owner berlipat lipat.

Sejatinya jobdesk untuk mendongkrak produktivitas bukan untuk meretas masalah bagi owner makin tak terbatas.Satu untuk semua bukan jawaban, malah ia menjadi pintu segala persoalan (lse)
 
Top