Kegagalan adalah proses perjalanan menemukan formula  keberhasilan. Sejatinya Gagal  adalah  pembuka  jalan aktif kreatif.

Standar Operasinal Prosedur bukanlah lampu Aladin, sekali gosok merubah keadaan.  Kisahnya terjadi hanya dalam dunia Negeri Dongeng Impian. Di kehidupan nyata semua memerlukan proses perjalanan menuju pulau harapan.

SOP diharapkan mampu memberikan perubahan, tetapi ia memiliki syarat dan ketentuan. Apabila tidak diindahkan apa yang menjadi manfaat dan khasiat hanya  sebatas menjadi harapan semata.

Standar Operasional Prosedur sebelum menjadi “digdaya” memerlukan perjalanan. Banyak perusahaan yang sudah menerapkan Standard Operasional Prosedur, namun belum melaksanakan proses kajian atas koreksi implementasi penerapan.

Menjadi suatu kebutuhan dan pengembangan yang sangat penting dalam perusahaan untuk dapat memastikan bahwa proses implementasi dari Standard Operasional Prosedur dilakukan dengan melakukan proses pengkajian terkait dengan kesesuaian penerapannya.

Agar risiko hambatan tersebut dapat diatasi dengan kontrol-kontrol yang sesuai dan memadai perlu diselenggarakan internal audit. Audit berkala, terstruktur, dan komprehensip, Integrated ini dilaksanakan dengan mengindahkan SOP yang telah ada.

Inilah beberapa kriteria dan keadaan yang harus diperhatikan, terselenggara  dalam Internal Audit :

  1. Dibuat daftar periksa yang merupakan resume SOP  yang berlaku, didalamnya mengandung kondisi ideal tentang apa yang dirumuskan dalam Standar berpemastian. Daftar Periksa ini dibuat per departemen dan berisikan kriteria-kriteria yang mengukur kedalaman pelaksanaan SOP. Pelaksanaanya adalah membandingkan antara kondisi ideal sesuai yang tertera di SOP dibandingkan dengan temuan praktiknya.
  2. Memperoleh bukti-bukti dan mengevaluasinya. Pelaksanaan Internal Audit  waktunya terjadwal rutin, ditentukan team pelaksana dan area yang dinilai, biasanya dikenal methode silang. Konsepnya  antar departemen saling Audit secara fair, transparan dan korektif. Setiap temuan penyimpangan harus dapat menunjukan bukti penyimpangan. Tujuanya agar dapat dijadikan sarana koreksi aplikatif.
  3. Internal Audit pada akhirnya harus  mampu menampilkan performa status pencapaian penerapan SOP. Disini terbangun suasana kompetisi, berlomba-persaingan antar bagian yang positif. Diharapkan hasil akhirnya adalah kondisi  kondusif dimana SOP benar benar dijadikan standar pencapaian keberhasilan. Masing masing Departemen akan menampilkan performa terbaiknya. Sebagai bentuk pembuktian  kepada pihak lain bahwa mereka telah bekerja dengan baik.
  4. Mampu mengukur apa yang telah dilakukan, apa yang telah dicapai dan bagaimana mencapainya. Daftar periksa yang dibuat menjadi pedoman level ukuran  keberhasilan pelaksanaan proses/prosedur  sesuai SOP yang telah ditetapkan. Maka setelah audit berakhir  harus mampu memberikan sebuah gambaran pencapaian. Apa yang telah dilakukan, apa yang telah dicapai, bagaimana proses mencapainya. Hasil akhirnya setiap  departemen yang berhasil beroleh angka tertinggi dapat dijadikan model. Duplikasi akan menemukan sosok dan wujud yang jelas sehingga memudahkan kesuksesan dapat ditularkan ke Departemen yang beroleh nilai minim.
  5. Internal Audit  mampu menjadi pijakan metamorfosa perbaikan bekelanjutan/ Improvement. Tidak ada yang langsung sempurna, semua acap dimulai dari gagal dan salah. Justru Internal audit akan mampu memberi jalan dilakukan perbaikan berkelanjutan. Setiap penyimpanan, abnormalitas yang menjadi minus point penilaian bukan sekedar “aib kelemahan”. Ia adalah  temuan yang dapat dijadikan pijakan awal perbaikan.

Internal Audit adalah cara mudah memformulasikan keberhasilan pelaksanaan dan konservasi penerapan. Proses yang dilaksanakan tepat akan menghasilkan kondisi ideal. Perjalanan ini tak dapat menghilangkan masalah serta merta, tetapi harus melalui usaha keras dan terarah. Bagaimana pendapat Anda? (Lse)



 
Top